-
Minggu, 30 Januari 2011
Mahesa Jenar dan 'mantan pejabat
Meninggalkan keluhuran derajat dan kekuasaan sebagai panglima wira
tamtama Kerajaan Demak pada masa Sultan Trenggono, lalu memilih jalan darma sebagai seorang pendekar, berkelana membaur dengan kawula alit. Demikian dikisahkan S.H. Mintardja dalam Naga Sasra dan Sabuk Inten. Seperti umumnya pendekar, Mahesa Jenar hidup bersahaja, jauh dari kemewahan duniawi. Ia sudah mantan, namun baktinya pada negara, kemanusiaan dan nilai luhur masih begitu menggelora.
Manusia jenis apa sang tokoh ini ? Seseorang yang cocok untuk memenuhi kehausan zamannya akan kebutuhan seorang pahlawan pembela rakyat, yang seolah tanpa cela ? Atau tokoh naif kah dia, yang tak bisa memanfaatkan jabatannya untuk segi sosial ekonomi dan politisnya ? Kita tidak tahu pasti. Tindakan sosial sering memiliki motif yang sulit dijelaskan bahkan oleh pelakunya sendiri. Tapi, yang jelas, bila menjadi mantan di saat sekarang ini lalu meniru jalan Mahesa Jenar, maka ia ora keduman, tidak kebagian. Mantan pejabat negri ini tidak suka memilih jalan sepi ing pamrih itu.
Pada zaman kini, para mantan - kata Muhamad Sobary - memiliki dua ciri, menjadi pengusaha yang lebih serius, lebih profesional (dibanding saat masih jadi penguasa), atau berpolitik sebagai oposan. Berbaju kelompok oposisi, para mantan begitu bersemangat menyuarakan kepentingan rakyat, seolah kekacauan kondisi ini baru saja terjadi semalam. Orang kecil pun hanya bisa berbisik di belakang, "Betapa hebat jika sikap itu tampak dari dulu, ketika masih berkuasa. Kayaknya waktu mereka masih di singgasana, kita juga tidak merasakan hidup serba ideal."
"Vokal tanpa kekuasaan di tangan tak ada gunanya. Percuma !" kata seorang teman yang memilih DO dari kampus demi idealismenya.
"Mereka satria yang menghormati atasan. Untuk bersuara, mereka nunggu setelah bukan lagi menjadi bawahan," sahut kang Warjo, sopir angkot yang ngakunya pernah kuliah walau cuma satu semester.
Orang pun enggan menjadi mantan, ingin jumeneng (mempunyai posisi) terus. Kegelisahan rohani, karena orang tak lagi menegur sambil membungkuk lalu suka rela membukakan pintu mobil, pasti melanda. Ditambah lagi gangguan stabilitas sosial ekonomi politik dalam hidup pribadi dan keluarga juga menjadi resiko seorang mantan. Dari itu maka tak mengherankan jika para pejabat itu bersikap lembut pada "rakyatnya" yang di perguruan tinggi. Apalagi saat menjelang akhir jabatan. Mereka berharap perpanjangan "masa bakti" dengan menjadi profesor. Dalihnya, masih merasa terpanggil. Entah suara gaib dari mana yang memanggil.
Sepertinya, mantan adalah gejala yang menakutkan, atau malah wujud dari ketakutan itu sendiri. Kalaupun menjadi mantan sudah tidak bisa lagi terhindarkan, maunya menjadi mantan yang makmur. Mobil dinas tak usah dikembalikan. Fasilitas lain kalau bisa jangan drastis dihentikan. Perlu yang namanya periode transisi. Sementara itu, tradisi makan malam di hotel masih harus dipertahankan. Pokoknya jangan seperti Mahesa Jenar, dingin, sepi, di rimba belantara, jauh dari kafe dan credit card.digoreskan oleh sayurs
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 comments: